Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Social Icons

Featured Posts

Kamis, 01 Mei 2014

PENDIDIKAN DIKAMPUS MEWAH STMIK SZ NW ANJANI LOMBOK TIMUR


Berbicara tentang pendidikan, ada begitu banyak pendidikan yang menyediakan berbagai macam keterampilan atau keahlian, khususnya ditingkat jenjang pendidikan tinggi. Sebut saja salah satu contoh nama sekolah tinggi yang ada dilombok timur ini yaitu “STMIK SZ NW ANJANI” yang bernaung dibawah yayasan pondok pesantren NW ANJANI.
Sekolah tinggi STMIK SZ NW ANJANI ini didirikan pada tahun 2006 oleh “Dr.H.M. Mugni Sn., M.Pd., M.Kom. selain sekolah tinggi tersebut ada beberapa sekolah madrasah yang sudah didirikannya yaitu sekolah “MAPK” berdampingan dengan sekolah tinggi STMIK dan masih ada lagi yang lainnya.
Seiring bergantinya zaman, dari zaman kuno ke zaman modern maka tidak ada yag tidak mungkin, dengan akal pikiran manusia yang diberi oleh tuhan apapun bisa dilakukannya dengan pemikiran keras mereka. Kembali lagi ke contoh sekolah tinggi tersebut, bahwa STMIK SZ NW ANJANI ini adalah salah satu sekolah tinggi yang menerapkan pendidikan dibidang Teknologi atau bidang IT. Ada beberapa nama jurusan yang ada dikampus tersebut yaitu : Teknik Informatika (S1) dan Sistem Informasi (S1). Kampus STMIK SZ NW ANJANI sudah dua kali mencetak sarjana yang ahli dibidang IT.
Kwalitas atau kwantitas sekolah tinggi tersebut memang begitu cukup memadai, kenapa,? karna kalau masalah pasilitas bisa dibilang lengkap mulai dari Lab yaitu : lab laboratorium, lab multimedia dan lab aplikasi.
Selain dari segi pasilitas yang cukup baik sekolah tinggi tesebut juga mempunyai dosen pengajar yang bisa dibilang sudah begitu handal dalam bidang mereka masing-masing, salah satunya mulai dari dalam bidang programmer, Robotik, multimedia dan masih banyak lagi bidang-bidang yang lainnya yang mereka kuasai.
Mungkin setelah kita melihat atau mendengar penjabaran tentang sekolah tinggi STMIK SZ NW ANJANI, dimana kampus tersebut mempunyai berbagai macam pasilitas dan dosen yang begitu handal dalam bidangnya masing-masing, tentunya akan timbul sebuah pertanyaan, “berarti dikampus tersebut sangat bagus..??” dan terlebih-lebih adanya daya tarik kita untuk ingin menjadi  salah satu mahasiswa kampus tersebut.
Namun setelah anda resmi menjadi mahasiswa kampus tersebut apa pertanyaan anda terjawab setelah anda masuk kekampus tersebut? Saya bisa tebak, tentunya itu hal yang ironis tidak sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran anda.
Kenapa saya bilang itu hal yang ironis atau bertolak belakang dengan apa yang ada dalam pikiran anda, alasannya tentu sangat jelas sekali karna setau kita kalau sebuah kampus atau sekolah menerapkan penerapan dalam bidang teknologi tentunya semua sistem yang diterapkannya juga berbasis teknologi juga atau hampir tidak ada sistem yanng berjalan secara manual, namun ini tidak, ada beberapaa sistem yang berjalan secara manual bahkan bisa dibilang semua sistemnya masih menggunakan secara manual.
Ada beberapa contoh sistem yang masih berjalan secara manual misalkan dalam sistem pembayaran, ntah itu pembayaran uang semester atau pembayaran yang lainnya, disini didalam pembayaran ini mahasiswa begitu suntuk, bosan dan terlalu lama karna menunggu/mengantri mahasiwa yang lainnya yang lagi sibuk berdiri didepan petugas keuangan yang lagi mencatat, membolak balik buku besar, coba bayangkan apakah mahasiswa tidak lelah menunggu karna segitu banyaknya mahasiswa yang membayar dan apakah petugas keuangannya juga tidak begitu lelah mencatat belum lagi membolak balik buku jurnal besar untuk mencari sesuai dengan jurusan masing-masing.
Selain sistem pembayaran yang dilakukan secara manual adalagi sistem yang berjalan secara manual juga yaitu pada pengisian KRS, pada sistem yang satu ini mahasiswa kadang ada yang ngisinya terlambat karna alasan mungkin rumahnya terlalu jauh sehingga membuat mahasiswa cenderung jadi malas pergi kekampus untuk mengisi KRS, alhasil mahasiswa tersebut kena denda sebesar 5000 perharinya, apakah denda itu tidak terlalu berlebihan, apa denda itu tidak membebani mahasiswa yang bersangkutan.
 Dikedua permasalah tersebut akan timbul sebuah pertanyaan, mengapa dikampus STMIK yang memang sudah menerapkan teknologi tidak menggunakan atau memanfaatkan sistem yang berteknologi untuk mengurangi hal-hal tersebut. Ini bukan masalah ketidakmampuan atau keterampilan tenaga kerja, seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa dosen di STMIK tersebut adalah dosen yang sudah terpilih, yang terbaik dan rata-rata jenjang pendidkan dosennya hampir semua menyandang gelar strata dua (S2), jadi tidak ada yang tidak mungkin kalau pihak kampus tersebut ingin membuat sistem yang berbasis teknologi.
Setelah melihat mulai dari segi tenaga kerja dan pasilitas yang begitu cukup memadai, lantas kenapa sampai sekarang belum ada jawaban untuk menangani masalah-masalah yang ada dikampus tersebut, kalau dipikir-pikir lagi tentunya tidak layak bahkan sudah tidak pantas bagi kampus STMIK masih tetap menggunakan sistem yang masih berjalan secara manual.