Berbicara tentang pendidikan, ada begitu banyak pendidikan yang
menyediakan berbagai macam keterampilan atau keahlian, khususnya ditingkat
jenjang pendidikan tinggi. Sebut saja salah satu contoh nama sekolah tinggi
yang ada dilombok timur ini yaitu “STMIK SZ NW ANJANI” yang bernaung dibawah
yayasan pondok pesantren NW ANJANI.
Sekolah tinggi STMIK SZ NW ANJANI ini didirikan pada tahun 2006 oleh
“Dr.H.M. Mugni Sn., M.Pd., M.Kom. selain
sekolah tinggi tersebut ada beberapa sekolah madrasah yang sudah didirikannya
yaitu sekolah “MAPK” berdampingan dengan sekolah tinggi STMIK dan masih ada
lagi yang lainnya.
Seiring bergantinya zaman, dari zaman kuno ke zaman modern maka tidak ada
yag tidak mungkin, dengan akal pikiran manusia yang diberi oleh tuhan apapun
bisa dilakukannya dengan pemikiran keras mereka. Kembali lagi ke contoh sekolah
tinggi tersebut, bahwa STMIK SZ NW ANJANI ini adalah salah satu sekolah tinggi
yang menerapkan pendidikan dibidang Teknologi atau bidang IT. Ada beberapa nama
jurusan yang ada dikampus tersebut yaitu : Teknik
Informatika (S1) dan Sistem Informasi
(S1). Kampus STMIK SZ NW ANJANI sudah dua kali mencetak sarjana yang ahli
dibidang IT.
Kwalitas atau kwantitas sekolah tinggi tersebut memang begitu cukup
memadai, kenapa,? karna kalau masalah pasilitas bisa dibilang lengkap mulai
dari Lab yaitu : lab laboratorium, lab
multimedia dan lab aplikasi.
Selain dari segi pasilitas yang cukup baik sekolah tinggi tesebut juga
mempunyai dosen pengajar yang bisa dibilang sudah begitu handal dalam bidang
mereka masing-masing, salah satunya mulai dari dalam bidang programmer, Robotik, multimedia dan
masih banyak lagi bidang-bidang yang lainnya yang mereka kuasai.
Mungkin setelah kita melihat atau mendengar penjabaran tentang sekolah
tinggi STMIK SZ NW ANJANI, dimana kampus tersebut mempunyai berbagai macam
pasilitas dan dosen yang begitu handal dalam bidangnya masing-masing, tentunya
akan timbul sebuah pertanyaan, “berarti
dikampus tersebut sangat bagus..??” dan terlebih-lebih adanya daya tarik
kita untuk ingin menjadi salah satu
mahasiswa kampus tersebut.
Namun setelah anda resmi menjadi mahasiswa kampus tersebut apa pertanyaan
anda terjawab setelah anda masuk kekampus tersebut? Saya bisa tebak, tentunya
itu hal yang ironis tidak sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran anda.
Kenapa saya bilang itu hal yang ironis atau bertolak belakang dengan apa
yang ada dalam pikiran anda, alasannya tentu sangat jelas sekali karna setau
kita kalau sebuah kampus atau sekolah menerapkan penerapan dalam bidang
teknologi tentunya semua sistem yang diterapkannya juga berbasis teknologi juga
atau hampir tidak ada sistem yanng berjalan secara manual, namun ini tidak, ada
beberapaa sistem yang berjalan secara manual bahkan bisa dibilang semua
sistemnya masih menggunakan secara manual.
Ada beberapa contoh sistem yang masih berjalan secara manual misalkan
dalam sistem pembayaran, ntah itu pembayaran uang semester atau pembayaran yang
lainnya, disini didalam pembayaran ini mahasiswa begitu suntuk, bosan dan
terlalu lama karna menunggu/mengantri mahasiwa yang lainnya yang lagi sibuk
berdiri didepan petugas keuangan yang lagi mencatat, membolak balik buku besar,
coba bayangkan apakah mahasiswa tidak lelah menunggu karna segitu banyaknya
mahasiswa yang membayar dan apakah petugas keuangannya juga tidak begitu lelah
mencatat belum lagi membolak balik buku jurnal besar untuk mencari sesuai
dengan jurusan masing-masing.
Selain sistem pembayaran yang dilakukan secara manual adalagi sistem yang
berjalan secara manual juga yaitu pada pengisian KRS, pada sistem yang satu ini
mahasiswa kadang ada yang ngisinya terlambat karna alasan mungkin rumahnya
terlalu jauh sehingga membuat mahasiswa cenderung jadi malas pergi kekampus
untuk mengisi KRS, alhasil mahasiswa tersebut kena denda sebesar 5000 perharinya,
apakah denda itu tidak terlalu berlebihan, apa denda itu tidak membebani
mahasiswa yang bersangkutan.
Dikedua permasalah tersebut akan
timbul sebuah pertanyaan, mengapa dikampus STMIK yang memang sudah menerapkan
teknologi tidak menggunakan atau memanfaatkan sistem yang berteknologi untuk
mengurangi hal-hal tersebut. Ini bukan masalah ketidakmampuan atau keterampilan
tenaga kerja, seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa dosen di STMIK
tersebut adalah dosen yang sudah terpilih, yang terbaik dan rata-rata jenjang
pendidkan dosennya hampir semua menyandang gelar strata dua (S2), jadi tidak
ada yang tidak mungkin kalau pihak kampus tersebut ingin membuat sistem yang
berbasis teknologi.
Setelah melihat mulai dari segi tenaga kerja dan pasilitas yang begitu
cukup memadai, lantas kenapa sampai sekarang belum ada jawaban untuk menangani
masalah-masalah yang ada dikampus tersebut, kalau dipikir-pikir lagi tentunya
tidak layak bahkan sudah tidak pantas bagi kampus STMIK masih tetap menggunakan
sistem yang masih berjalan secara manual.



